Rabu, 29 September 2010

Tak Tergantikan

“Tenang aja, posisi ibu tu ga akan tergantikan, bener deh…”, kata guru ngajiku saat menanggapi obrolan kami tentang kekhawatiran ibu anak menjadi tidak dekat lagi setelah tidak lagi diberi ASI.
Dalam hati aku membenarkan kata-kata itu walaupun dengan sedikit ragu karena mungkin saat itu belum mengalami sendiri saat-saat sangat dibutuhkan Afra yang tak bisa digantikan oleh orang lain, selain urusan ASI. Selama ini aku merasa Afra lebih dekat dengan Abinya. Asal ada Abi, maka aku tidak perlu repot karena Afra lebih sering melakukan segala sesuatu bersama Abinya seperti bermain, bersepeda, melihat ayam, begitupun minum susu saat berkali-kali bangun tidur di tengah malam. Alhasil saat abinya pergi walau sebentar, kalau hatinya sedang tidak lega, Afra pun menangis. Aku sebagai uminya, menikmati saja semua ini, toh aku selalu siap jika Afra ingin bersamaku, atau saat Afra harus bersamaku saat abinya harus pergi untuk keperluan sebentar atau yang sampai sebulan lamanya. Aku juga selalu mendukung kebersamaan Afra dengan abinya, misal dengan mengambilkan makanan Afra yg kemudian disuapkan oleh abinya, membuatkan susu, mengambilkan celana saat Afra pipis, mengambilkan mainan, dan lain-lain. Sikap santai dan tak cemburuku secara tak sadar ternyata cukup dipengaruhi juga oleh kata-kata guru ngajiku itu. Karena aku cukup yakin dengan kata-kata itu. Tapi jangan tanya seberapa besar keyakinan itu, karena aku juga tak tahu. Pasti jawabanku “ Yah..yakin aja..”
Namun ada juga saat-saat tertentu yang Afra inginkan hanya bersama uminya, misal bermain lego atau yg biasa kami sebut susun-susunan, menggambar dengan crayon, atau membaca buku cerita. Atau saat- saat tidur berdua sambil aku bercerita kejadian yg aku alami, misal “Dek, td pagi umi berangkat naik kereta api lho, yg bunyinya..Tuut…tuut…” dia cukup senang sebab kami pernah mengajaknya naik kereta, dan sepertinya dia cukup mengingatnya.
Atau sekedar mengingat kejadian yg kita alami bersama, seperti “Dek, inget ga waktu di tempat Mbah..kita lihat ikan banyak….sekali di kolam, ikannya berenang-renang…”, ceritaku lengkap dengan ilustrasi suara dan gerakan tangan. Afra terlihat sangat mendengarkan dan mengingat kejadian itu. Dia biasanya akan merespon dengan kata-kata yg belum jelas, kadang sambil menunjuk-nunjuk dan tertawa ceria, seolah dia juga ingin menimpali ceritaku. Dan masih banyak lagi kegiatan yang cukup mengasyikkan yang hanya kami lakukan berdua.
Sekarang aku cukup mengerti maksud guru ngajiku, ternyata peran ibu memang tak tergantikan. Walau intensitas Afra bersama abi cukup banyak, namun aku merasa saat-saat bersamaku yg cukup menyenangkan itu juga sangat dinanti-nantinya. Walau aku yakin cinta Abi terhadap Afra tidak lebih kecil dari cintaku, bahkan mungkin lebih besar, namun cara kami mengungkapkannya berbeda. Jika Abi mengungkapkan dengan care, tindakan, melayani, dengan kata-kata yang cukup minimalis dan lembut, bahkan pelan, maka aku lebih sering mengungkapkan lewat cerita, bermain bersama yg sifatnya menambah pengetahuan dan ketrampilannya. Selama ini pun aku merasa banyak hal-hal baru yg Afra pelajari melalui uminya, misal jongkok kalau mau dicebokin, menyusun lego, menyusun puzzle, mengenal nama-nama setiap benda atau binatang, bunyi binatang, (afra jg tahu yg namanya bulan di langit dr uminya lho..), dll. Sejauh ini aku merasa kebersamaanku dengan Afra cukup mempunyai nilai tambah. Dan sepertinya, itu pulalah yang sering Afra rindukan . Seperti pagi ini, sehabis subuh Afra mandi, bermain sambil sarapan di luar bersama Abi, aku sibuk memasukkan baju yang telah disetrika ke dalam lemari, sambil bersiap-siap ke kantor. Namun saat aku masih bersiap-siap, Afra yg bersama Abi mulai rewel. Karena Abi akan bersiap-siap juga, maka Afra diserahkan kepada khadimat kami, Mbak Siti dalam keadaan menangis untuk diajak berbelanja. Tetapi Afra tetap menangis walaupun biasanya dia senang diajak berbelanja ke tukang sayur sebab disana banyak kucing yang menunggu potongan2 ikan dari Mba Iyem, si tukang sayur. Tiba2 aku ingat, aku belum berpamitan dengan Afra, padahal sebentar lagi aku akan diantar ke stasiun dengan terburu-buru, tentunya tanpa sempat menyusul Afra ke tukang sayur. Maka aku langsung memenggil Afra, Afra pun kembali bersama Mbaknya, lalu kugendong putriku di teras rumah, “Dek, umi mau berangkat kerja, Afra sama Mbak Siti ya, main sama Dek Icha, tuh Umi sama Abinya Dek Icha juga berangkat kerja..ya…” Afra diam, tenang dan mendengarkan, agaknya dia mengerti. Lalu aku berpamitan sambil bersalaman, cipika-cipiki sebentar, lalu ku serahkan ke Mba Siti lagi. Subhanallah..Afra menurut dan ga nangis lagi. Aku jd terharu, ternyata Afra hanya kangen diperhatikan oleh umminya, bukan hanya abinya, namun aku juga tak berdaya. Maafkan Umimu nak…I love u much & I’ll try to do my best….
*Music illustration : Tak Akan Terganti (Marcell)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar