Masih jelas betul di ingatanku lelaki itu datang ke rumah kami dengan membawa sebungkus oleh-oleh dan setumpuk buku yang akan dikembalikannya kepada kami beberapa pekan yang lalu. Saat itu dia baru saja menerima anugrah kelahiran putrinya yang kedua yang oleh karenanya istri dan anaknya masih ditinggal di kampung, sementara dia kesini sendiri karena sudah harus mengikuti perkuliahan minggu pertama di semester baru. Dengan pembawaannya yang tenang, dia bercerita bahwa akhir minggu ini dia akan kembali pulang kampung. Semula aku pikir wajar kalau di sangat rindu dengan keluarganya di kampung sehingga harus kembali secepat itu. Namun ternyata hal yang mengharuskan dia kembali adalah karena dia harus menghadiri sidang di pengadilan lalu lintas. Ya dan lalu ia bercerita bahwa sewaktu dikampung ia terkena tilang oleh polisi. Saat itu kesalahannya kalau tidak salah adalah tidak membawa SIM dan tidak memakai helm. Dua pelanggaran yang dendanya masing-masing Rp 40.000 dan Rp 30.000. Polisi yang menilangnya saat itu memberi tawaran untuk bayar denda di tempat dan men’diskon’ denda sehingga dia hanya perlu membayar untuk satu pelanggaran.
Pada umumnya orang mungkin akan tergiur dengan tawaran itu. Selain lebih murah, menghemat waktu karena tidak perlu menghadiri sidang, juga lebih praktis karena STNK atau motor tidak tersita. Apalagi polisi itu pun memberikan bukti tilang yang terlihat resmi. Namun kita tidak tahu apakah uang yang dibayarkan secara langsung kepada polisi itu benar-benar masuk ke kas negara. Yang jelas hal itu tidak sesuai prosedur yang berlaku dan bisa jadi sama artinya dengan menyuap polisi. Lelaki itu dengan rendah hati dan logat jawa kental mengatakan bahwa ia rela melakukan itu karena ia takut dosa.
Subhanallah, sungguh pengorbanan yang besar untuk menghindar dari dosa yang mungkin sering dianggap ‘kecil’ oleh kebanyakan orang. Dapat dibayangkan berapa rupiah, tenaga, dan waktu yang harus dihabiskan untuk menyelesaikan urusan ini. Tapi lelaki itu telah mengingatkanku untuk tidak meremehkan ‘dosa-dosa’ kecil yang kalau dibiarkan akan membuat kita terbiasa dan menjadi tidak peka lagi terhadap perbuatan dosa, yang mungkin akan setara dengan dosa besar jika kita melakukannya berkali-kali.
Ya Allah...berilah kami kekuatan dan kesabaran untuk dapat menjauhi dosa kecil maupun besar. Amin
Jurang Mangu, 25 Januari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar